Diza: Kolaborasi dan Inovasi Kesehatan Jadi Kunci Wujudkan Kota Jambi Bahagia
Rabu, 04 November 2026
Penulis: Eko Oktavianus | Editor: Eko Oktavianus
Jambi — Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., menyambut baik penyelenggaraan The 7th Jambi Medicine and Health Science International Conference (Jamhesic) Tahun 2026 yang menjadi wadah kolaborasi internasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Kegiatan yang mengusung tema “Interprofessional Innovation, Global Collaboration, and Entrepreneurship to Strengthen Community and Environmental Health for Sustainable Human Well-being” ini digelar di Auditorium Lantai 6 Gedung ADB Fakultas Kedokteran Universitas Jambi, Rabu (04/11/2026). Konferensi tersebut menghadirkan akademisi dan pakar kesehatan dari dalam maupun luar negeri.
Jamhesic ke-7 secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi Universitas Jambi, Prof. Dr. Revis Asra, S.Si., M.Si.
Sejumlah narasumber internasional dan nasional turut hadir, di antaranya Dr. Anizah Rahumatullah dan Assoc. Prof. Dr. Emelia Osman dari Universiti Kebangsaan Malaysia; Sascha Struijs, Ph.D., dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda; Dr. Buntarika Chatreewatanakul dari Thammasat University, Thailand; Prof. Ira Nurmala, S.KM., M.PH., Ph.D., dari Universitas Airlangga; serta apt. Lalu Muhammad Irham, M.Farm., Ph.D., dari Universitas Ahmad Dahlan.
Dalam keterangannya, Prof. Revis Asra mengapresiasi penyelenggaraan Jamhesic ke-7 yang mampu menghadirkan narasumber dari berbagai negara. Menurutnya, konferensi tahun ini memiliki keistimewaan karena berlangsung selama dua hari, lebih panjang dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang umumnya hanya berlangsung satu hari.
"Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya hanya dilangsungkan selama satu hari, kegiatan pada edisi ketujuh ini dilaksanakan selama dua hari dengan menghadirkan jumlah narasumber yang lebih banyak serta rangkaian acara yang lebih panjang," ucapnya.
Ia berharap konferensi ini dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan kesehatan antarnegara, sekaligus membuka peluang penerapan berbagai praktik baik dalam pelayanan kesehatan.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha menilai tema Jamhesic ke-7 sangat relevan dengan tantangan pembangunan kesehatan saat ini. Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan membutuhkan kolaborasi lintas profesi, dukungan ilmu pengetahuan, serta keterlibatan berbagai pihak, khususnya kalangan akademisi.
Diza berharap kehadiran para pakar dari Malaysia, Belanda, dan Thailand dapat dimanfaatkan secara optimal oleh peserta untuk memperluas wawasan, memperkuat jejaring kerja sama, serta menghasilkan gagasan dan inovasi yang dapat mendukung peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Jambi terbuka terhadap berbagai masukan dan rekomendasi akademis untuk memperkuat transformasi pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kota Jambi Bahagia.
“Jamhesic ini merupakan forum penting yang mempertemukan gagasan, hasil penelitian, inovasi, dan pengalaman lintas profesi serta lintas negara. Karena itu, pembangunan kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas layanan kesehatan dan kemampuan medis,” tegas Diza.
Menurutnya, pembangunan kesehatan harus dilakukan secara menyeluruh dengan memanfaatkan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memastikan pelayanan yang inklusif dan mudah dijangkau seluruh lapisan masyarakat.
Diza juga memaparkan sejumlah program prioritas Pemerintah Kota Jambi yang mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Pertama, Kartu Bahagia, yang bertujuan memastikan masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan tanpa terkendala kemampuan ekonomi.
Kedua, Kampung Bahagia, yang mendorong partisipasi masyarakat dalam mewujudkan lingkungan permukiman yang bersih, sehat, aman, dan produktif.
Ketiga, Lansia Bahagia, yang memastikan warga lanjut usia mendapatkan perhatian, pendampingan, dan pelayanan untuk mendukung kehidupan yang sehat, bermartabat, dan berkualitas.
Keempat, Kota Tangguh, yang diarahkan pada pembangunan infrastruktur berkelanjutan serta peningkatan ketahanan dan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim dan risiko lingkungan yang berdampak pada kesehatan.
Kelima, Call Center Bahagia 112, yang menghadirkan layanan respons cepat dalam kondisi kegawatdaruratan agar masyarakat dapat memperoleh bantuan secara tepat waktu.
“Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan lingkungan, infrastruktur, kesejahteraan sosial, dan kualitas kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Diza menambahkan, Pemerintah Kota Jambi ingin membangun kota yang tidak hanya memiliki fasilitas kesehatan memadai, tetapi juga lingkungan yang sehat, masyarakat yang berdaya, sistem pelayanan yang responsif, serta perlindungan yang menjangkau seluruh warga.
Kegiatan ini diikuti mahasiswa dari berbagai fakultas ilmu kesehatan Universitas Jambi serta dihadiri para dekan, akademisi, dan perwakilan fasilitas pelayanan kesehatan se-Kota Jambi.