Wawako Diza Ajak Calon Guru Fkip Unja Bangun Kreativ Mindset dan Jadi Pendidik Yang Berdampak
Rabu, 07 Oktober 2026
Penulis: Bowo Prayitno | Editor: Eko Oktavianus
Muaro Jambi — Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., mengajak mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi (UNJA) membangun creative mindset dan mempersiapkan diri menjadi pendidik yang mampu memberikan dampak bagi generasi masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Diza saat menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Nasional FKIP Fair bertajuk “Gen Z to Great Teacher” di Gedung Aula UNIFAC Lantai 1 Universitas Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Rabu (07/10/2026).
Seminar mengusung tema “Membangun Creative Mindset untuk Menjadi Pendidik Inspiratif, Inovatif dan Berdaya Saing Global” diikuti ratusan mahasiswa FKIP UNJA.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Jambi Prof. Dr. Helmi, S.H., M.H., Dekan FKIP UNJA Prof. Dr. Supian, S.Ag., M.Ag., Asisten II Setda Kota Jambi Dr. H. Mulyadi, S.Pd., M.Pd., serta Ketua Pelaksana Yulianti, M.Pd., Kons.
Selain Diza, seminar juga menghadirkan Dr. Irvan Budhi Handaka, M.Pd., dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dengan Materi, Gen Z to GREAT Teacher ,Transformasi dari Content Creator menjadi Learning Creator di Era Kecerdasan Buatan.
Dalam paparannya, Diza mengatakan perkembangan teknologi, digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja dan berkomunikasi. Kondisi tersebut membuat calon guru harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menurutnya, teknologi tidak menghilangkan peran guru, tetapi mengubah peran tersebut. Jika dahulu guru lebih banyak menjadi sumber informasi, kini guru dituntut menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu membangun rasa ingin tahu, kreativitas dan karakter peserta didik.
“AI dapat membantu memberikan jawaban. Guru membantu manusia menemukan makna.” kata Diza.
Ia menilai, peserta didik saat ini dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, mulai dari internet, YouTube, platform digital hingga AI. Karena itu, guru masa depan tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi harus mampu membuat peserta didik tertarik untuk belajar dan memahami bagaimana pengetahuan diterapkan dalam kehidupan.
“Bukan kehilangan peran, tetapi perubahan peran. Guru harus naik level, dari sekadar pemberi informasi menjadi fasilitator pembelajaran,” ujarnya.
Diza juga mengingatkan mahasiswa FKIP bahwa mereka merupakan calon guru sekaligus calon pembentuk generasi masa depan. Karena itu, ia mendorong mahasiswa tidak hanya bercita-cita menjadi guru, tetapi menjadi great teacher yang mampu memberikan pengaruh positif bagi peserta didiknya.
“Don’t just teach. Create impact. Jangan hanya mengajar, tetapi ciptakan dampak,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya creative mindset bagi calon pendidik. Menurutnya, berpikir kreatif berarti berani melihat persoalan dari sudut pandang berbeda dan mencari solusi yang lebih baik.
Diza mengingatkan bahwa salah satu hambatan terbesar dalam membangun kreativitas adalah rasa takut gagal. Padahal, kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.
“Guru yang inspiratif bukan guru yang tidak pernah gagal, tetapi guru yang menunjukkan bahwa gagal adalah bagian dari belajar,” katanya.
Selain kreativitas, Diza menekankan pentingnya keseimbangan antara teori dan praktik dalam pendidikan. Menurutnya, pembelajaran akan lebih bermakna apabila pengetahuan yang diperoleh peserta didik dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa juga membahas berbagai persoalan pendidikan, mulai dari kurikulum yang sesuai dengan karakter generasi muda hingga bagaimana merancang program yang inovatif dan tepat sasaran.
Menanggapi hal tersebut, Diza menekankan pentingnya evaluasi dan survei sebelum sebuah program dijalankan. Menurutnya, program yang baik bukan hanya menarik secara konsep, tetapi harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Penting melakukan evaluasi dan, jika diperlukan, survei agar tingkat akurasi program benar-benar tinggi,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Diza juga memperkenalkan sejumlah program Pemerintah Kota Jambi yang berkaitan dengan pemberdayaan generasi muda dan masyarakat, di antaranya Balai Latihan Kerja (BLK) Tematik untuk meningkatkan keterampilan anak muda serta program BanHarkat yang memberikan dukungan permodalan bagi pelaku UMKM.
Menurut Diza, pemerintah tidak hanya bertugas membangun infrastruktur, tetapi juga harus membuka ruang, kesempatan, keterampilan dan dukungan ekonomi agar generasi muda dapat berkembang dan mandiri.
“Mudah-mudahan kehadiran kami dari pemerintah tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga memberikan masukan dan menanamkan ide bagi teman-teman yang nantinya akan memberikan edukasi kepada generasi penerus,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Irvan Budhi Handaka, M.Pd., dalam paparannya membahas “Transformasi dari Content Creator menjadi Learning Creator di Era Kecerdasan Buatan.”
Ia menjelaskan bahwa sumber pengetahuan saat ini semakin beragam. Peserta didik tidak lagi hanya belajar dari guru dan buku, tetapi juga dari Google, YouTube, media sosial, komunitas dan AI.
Meski demikian, kemajuan teknologi tetap membutuhkan sentuhan manusia. Empati, karakter, keteladanan dan kemampuan membimbing menjadi nilai penting yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi.
Seminar “Gen Z to Great Teacher” menjadi ruang bagi mahasiswa FKIP UNJA untuk memahami tantangan profesi guru di tengah perkembangan teknologi dan perubahan global.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa didorong mempersiapkan diri menjadi pendidik yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga kreatif, adaptif, inspiratif dan mampu membentuk karakter generasi masa depan.
Pesan utama yang disampaikan Diza kepada para calon guru adalah bahwa dunia akan terus berubah dan teknologi akan terus berkembang. Namun, kebutuhan manusia untuk dibimbing, diinspirasi dan diberikan keteladanan akan tetap ada.
Karena itu, calon guru tidak cukup hanya mengajar generasi masa depan, tetapi juga harus mampu ikut membentuk masa depan.