Wawako Diza Launching Agrobiopori, Dorong Urban Farming dan Ketahanan Pangan di Kota Jambi

Kamis, 08 Oktober 2026

Penulis: Johanes Afrizal | Editor: Eko Oktavianus

cover
jambikota.go.id | Pemerintah Kota Jambi

Jambi – Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., melaunching Semai Agrobiopori dalam rangka pengembangan urban farming terintegrasi di Kota Jambi Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung bersama Kelompok Tani Teman Abadi di RT 09, Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Kamis (07/10/2026).

Program Semai Agrobiopori merupakan inovasi yang mengintegrasikan pemanfaatan lahan pekarangan dengan pengolahan sampah organik rumah tangga. Program ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi sampah dari sumbernya.

Melalui program tersebut, masyarakat didorong memanfaatkan lahan pekarangan yang terbatas maupun ruang terbuka di kawasan permukiman untuk membudidayakan berbagai tanaman pangan. Sampah organik rumah tangga kemudian dapat diolah menjadi kompos atau pupuk alami untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Wawako Diza mengatakan, sektor pertanian memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan pembangunan Kota Jambi secara keseluruhan. Namun, keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan membutuhkan pendekatan dan inovasi yang sesuai dengan kondisi kota.

“Dengan kondisi Kota Jambi yang memiliki keterbatasan lahan, urban farming menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan pekarangan di sekitar permukiman masyarakat,” ujar Diza.

Menurutnya, teknologi agrobiopori dapat membantu masyarakat melakukan pengolahan sampah organik sekaligus menghasilkan pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman di pekarangan rumah.

“Kalau masyarakat memiliki pekarangan, bisa ditambahkan pipa-pipa agrobiopori. Sisa makanan atau sampah organik rumah tangga yang sesuai dapat dimasukkan ke dalamnya dan nantinya menghasilkan pupuk yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman,” jelasnya.

Diza menambahkan, Pemerintah Kota Jambi melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus mendorong pengembangan sektor pertanian dengan mengoptimalkan lahan yang tersedia agar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Ini merupakan cara yang organik dan inovatif. Program ini diinisiasi oleh rekan-rekan dari Dinas Pertanian Kota Jambi. Mudah-mudahan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan dapat menjadi percontohan,” katanya.

Ia menegaskan, keterbatasan lahan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti membangun ketahanan pangan. Sebaliknya, kondisi tersebut harus mendorong lahirnya berbagai inovasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah perkotaan.

image-content
jambikota.go.id | Pemerintah Kota Jambi

“Di tengah kondisi cuaca seperti sekarang, memang menanam memiliki tantangan tersendiri. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa memanfaatkan kondisi yang ada. Kita harus terus berinovasi agar lahan yang tersedia tetap produktif dan memberikan manfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Jambi, Evridal Asri, mengatakan Semai Agrobiopori merupakan bagian dari strategi pengembangan urban farming terintegrasi untuk mendukung ketahanan pangan yang berwawasan lingkungan.

Ia menjelaskan, Kota Jambi memiliki luas lahan pertanian yang terbatas, yakni sekitar 511 hektare. Karena itu, diperlukan inovasi untuk meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus mendukung pengendalian inflasi.

“Dengan keterbatasan lahan pertanian, kita harus berinovasi. Salah satunya melalui Semai Agrobiopori dengan memanfaatkan lahan kosong, lahan sempit, dan pekarangan rumah untuk kegiatan budidaya,” jelas Evridal.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman, tetapi juga terintegrasi dengan pengelolaan sampah rumah tangga.

“Sampah organik dapat dimanfaatkan melalui agrobiopori untuk menghasilkan pupuk yang kemudian digunakan dalam kegiatan budidaya. Sementara sampah anorganik akan dikelola melalui konsep 3R,” katanya.

Evridal menyebut, pada tahap awal program Semai Agrobiopori dilaksanakan sebagai proyek percontohan di dua lokasi, yakni Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, dan Kelurahan Pinang Merah Kecamatan Alam Barajo.

“Untuk saat ini masih berupa pilot project atau percontohan. Pada 2027 nanti kita berharap program ini dapat direplikasi pada kelompok-kelompok tani lainnya. Pemerintah akan terus mendorong melalui pendampingan dan pembinaan teknis,” ujarnya.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi, Mahruzar, S.T., M.Kom. Ia mengatakan, program agrobiopori sejalan dengan upaya pengurangan dan pengelolaan sampah dari sumbernya.

“DLH tentu sangat mendukung kegiatan ini karena sejalan dengan upaya mengurangi sampah dari sumbernya. Dengan adanya agrobiopori, sampah organik dapat dipilah dan dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman di lingkungan rumah masing-masing,” katanya.

image-content
jambikota.go.id | Pemerintah Kota Jambi

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Teman Abadi, Abrianto, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Jambi atas dukungan terhadap masyarakat dalam memanfaatkan lahan pekarangan menjadi lebih produktif.

“Alhamdulillah, hari ini kami kedatangan Bapak Wakil Wali Kota Jambi dalam rangka launching agrobiopori di kawasan KWT Serasi. Program ini membantu kami memanfaatkan pekarangan sekaligus mengolah sampah organik rumah tangga,” katanya.

Ia menjelaskan, pupuk organik yang dihasilkan dari agrobiopori nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai tanaman, seperti cabai dan sayuran.

“Pupuk organik ini nantinya bisa dipanen sekitar tiga bulan dan dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman. Saat ini kami menanam cabai, dan ke depan berencana menanam melon. Biasanya kami juga menanam bayam dan kangkung,” singkatnya.

Program Semai Agrobiopori diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ketahanan pangan perkotaan yang mandiri, produktif, inovatif, sekaligus berwawasan lingkungan melalui pemanfaatan pekarangan dan pengelolaan sampah organik dari tingkat rumah tangga.