Akselerasi Pendidikan Anak Usia Dini, Nadiyah Pimpin Rakor Bunda PAUD se- Kota Jambi
Rabu, 03 Juni 2026
Penulis: Agre Ilham Ramadhani | Editor: Eko Oktavianus
Jambi - Dalam rangka mempersiapkan Generasi Emas 2045 serta mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), Bunda PAUD Kota Jambi Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG., pimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Bunda PAUD Kecamatan dan Kelurahan se-Kota Jambi, bertempat di Aula Gedung TP PKK Kota Jambi, Rabu (03/06/2026).
Mengusung tema “Bersama Mewujudkan PAUD Bermutu dan Wajib PAUD 1 Tahun Pra-SD”, Rapat membahas tentang bagaimana optimalisasi layanan PAUD dalam upaya wajib belajar 13 tahun.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Tim Percepatan Wajib Belajar 13 tahun Direktorat PAUD, Bambang, Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Penddidikan Kota Jambi, Husna Marlina, para Ketua Pokja Bunda PAUD, Bunda PAUD Kecamatan dan Kelurahan se-Kota Jambi, serta para Kader Posyandu.
Rapat ini bertujuan untuk menyamakan persepsi serta menyusun langkah-langkah strategis dalam pelaksanaan program PAUD yang efektif dan berkelanjutan. Serta meningkatkan peran Bunda PAUD dan Kader Posyandu se-Kota Jambi dan mendorong kolaborasi lintas sektor.
Dalam sambutannya, Bunda PAUD Nadiyah mengatakan bahwa pada tahun ini terjadi kenaikan angka pendaftar pada jenjang PAUD. Hal ini merupakan tren positif seiring bertumbuhnya kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan sejak usia dini.
“Dengan adanya kolaborasi antara tim Bunda PAUD, PKK, Kader Posyandu serta Dinas Pendidikan, alhamdulillah ada peningkatan anak-anak usia 5-6 tahun yang bersekolah di PAUD. Awalnya berkisar diangka 59% menjadi 88%, jadi dalam 1 tahun kerja kita sudah terlihat awal yang baik. Namun jangan terlalu senang dahulu, karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan," kata Nadiyah.
Nadiyah berharap para peserta Rakor untuk dapat lebih memahami pentingnya pendidikan di usia dini.
“Bunda PAUD Kecamatan dan kelurahan, Kader Posyandu dibidang pendidikan, sudah harus fasih dan lancar untuk mensosialisasikan mengenai pentingnya 1 tahun PAUD sebelum masuk SD agar masyarakat dapat memahami bahwa usia 0-5 tahun adalah usia Golden Age, masa emas pertumbuhan otak yang tidak dapat terulang kembali yang mana terjadi pertumbuhan otak 80% - 90%. Untuk itu diperlukan optimalisasi gizi dan stimulasi," harapnya.
“Pembelajaran di PAUD harus menyenangkan, sehingga anak yang akan masuk SD setelah PAUD akan lebih siap bersekolah dibandingkan dengan yang tidak masuk PAUD. Karena di jenjang PAUD mereka juga diajarkan empati, berbagi, dan saling menghargai," lanjutnya.
Ia menegaskan komitmen pemerintah Kota Jambi dalam mendukung program pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, dengan menargetkan menghadirkan sekolah PAUD Negeri diseluruh Kecamatan di kota Jambi.
“Pemerintah hadir untuk masyarakat kurang mampu melalui pembangunan PAUD Negeri yang awalnya 2, tahun kemaren sudah jadi 5 sekolah lagi. Beberapa bulan yang lalu kami sudah melakukan pertemuan dengan Direktorat Jendral PAUD untuk dapat membantu pemerintah Kota Jambi dalam pembangunan PAUD Negeri dan sudah dilakukan peninjauan di Kecamatan Alam Barajo dan Kecamatan Paal Merah," jelas Nadiyah.
Dirinya berharap melalui Gerakan Sapa Bahagia yang merupakan inovasi dari Bunda PAUD dapat mendukung cita -cita bersama dalam upaya menghadirkan pendidikan anak usia dini yang inklusif, ramah anak, dan berkelanjutan.
"Inovasi saya sebagai Bunda PAUD melalui Sapa Bahagia, saya berharap dapat diimplementasikan selalu di Kecamatan dan Kelurahan. Kalau ibu-ibu memiliki inovasi lain, silahkan ditambahkan tanpa melupakan tujuan utamanya," terangnya.
Pada kegiatan tersebut, juga dilakukan pengenalan Aplikasi Sapa Bahagia hasil kolaborasi Bunda PAUD bersama Dinas Pendidikan Kota Jambi yang bertujuan untuk pendataan anak umur 4-6 tahun yang tidak mengenyam pendidikan jenjang PAUD di Kota Jambi.
Gerakan Sapa Bahagia menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor sekaligus meneguhkan komitmen Kota Jambi dalam menghadirkan pendidikan yang berpihak pada anak. Gerakan ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah nyata membangun budaya pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan berkelanjutan demi terwujudnya Generasi Emas Indonesia di masa depan.