Antisipasi Kemarau Panjang, Pemkot Jambi Siapkan Anggaran BTT Rp4,7 Miliar dan Mobilisasi 21 Armada Tangki Air

Sabtu, 29 Agustus 2026

Penulis: Agre Ilham Ramadhani | Editor: Eko Oktavianus

cover
jambikota.go.id | Pemerintah Kota Jambi

Jambi — Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi menegaskan komitmennya dalam merespons cepat dampak musim kemarau dan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Hal itu ditegaskan dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026. Dimana, Pemkot Jambi menyiagakan alokasi Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp4,7 miliar yang diprioritaskan untuk penanggulangan krisis air bersih dan bencana dampak kemarau.

Wali Kota Jambi, Dr. dr. Maulana, M.K.M., menyampaikan hal tersebut usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kota Jambi, Sabtu (29/08/2026), dengan agenda Penyampaian Jawaban Eksekutif atas Pandangan Umum Fraksi-Fraksi DPRD Kota Jambi terhadap Nota Pengantar Raperda Perubahan APBD 2026.

Maulana menjelaskan, adanya tambahan pendapatan daerah dari surplus Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH), serta insentif pusat dimaksimalkan untuk menopang program-program prioritas masyarakat, termasuk penanganan dampak musim kemarau.

"Kenaikan pendapatan dan alokasi BTT ini kita fokuskan untuk program prioritas publik. Untuk sektor bencana, alokasi dana BTT sebesar Rp4,7 miliar sudah disiapkan. Ini bagian dari respons kita terhadap penanggulangan dampak kemarau, seperti distribusi air bersih dan penanganan kebencanaan lainnya," ujar Maulana.

Terkait kelangkaan air bersih akibat penurunan debit sungai batanghari dan mengeringnya sumur gali warga di sejumlah titik, seperti kawasan Kenali, Pemkot Jambi telah mendistribusikan puluhan ribu meter kubik air bersih langsung ke pemukiman warga.

Untuk mempercepat jangkauan bantuan, Pemkot Jambi memobilisasi total 21 unit mobil tangki air bersih lintas instansi. Armada tersebut terdiri dari 4 unit milik Perumda Air Minum Tirta Mayang, 15 unit dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar), serta 2 unit dukungan dari Batalyon.

"Distribusi air bersih ini merupakan langkah marathon. Kita mengerahkan seluruh sumber daya dan terus menjaga ritme pelayanan agar kebutuhan dasar masyarakat terlayani hingga musim kemarau berakhir," jelasnya.

Sebagai langkah jangka panjang, Pemkot Jambi juga telah menyurat secara resmi kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta untuk memohon bantuan pembangunan sumur bor dalam.

"Kita mengusulkan pembangunan 22 unit sumur bor dalam, yaitu 2 unit per Kecamatan. Respon dari pusat sangat positif dan akan digabungkan dalam program penanganan wilayah penyeimbang. Ke depan, sumur bor ini bisa difungsikan juga sebagai hidran pemadam kebakaran saat terjadi karhutla," lanjut Maulana.

Selain krisis air bersih, Pemkot Jambi terus memantau pergerakan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang fluktuatif akibat kabut asap karhutla di wilayah regional. Kebijakan mengenai proses belajar mengajar di sekolah, baik tatap muka maupun daring dievaluasi secara berkala setiap tiga hari dengan mempertimbangkan arah angin dan kondisi udara di Daerah tetangga.

"Keputusan belajar mengajar dievaluasi dinamis per tiga hari dan diumumkan sehari sebelumnya. Jika angka ISPU berada di bawah 100, kegiatan belajar tetap berjalan tatap muka. Kita terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi agar keselamatan anak-anak sekolah tetap menjadi prioritas utama," tegasnya.

Di akhir keterangannya, Wali Kota Jambi mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih selama masa kemarau, serta segera melapor melalui layanan darurat Call Center 112 atau 110 jika membutuhkan pasokan air bersih darurat di lingkungannya.