Pemkot Jambi Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan Program HIV/AIDS
Senin, 21 September 2026
Penulis: Johanes Afrizal | Editor: Eko Oktavianus
Jambi – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi terus memperkuat komitmen dan kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan serta penanggulangan HIV/AIDS secara berkelanjutan. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui Workshop HIV/AIDS bertajuk “Building Awareness and Mobilizing Domestic Resources for Sustainability of HIV Program” atau Membangun Kesadaran dan Memobilisasi Sumber Daya Domestik untuk Keberlanjutan Program HIV.
Mewakili Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Jambi, Fahmi, S.P., menghadiri sekaligus membuka kegiatan workshop yang digelar di Grand Hotel Makmur, Senin (21/09/2026).
Workshop tersebut menjadi ruang kolaborasi dan pertukaran informasi untuk meningkatkan pemahaman, kapasitas, serta komitmen berbagai pemangku kepentingan dalam pencegahan, penjangkauan, konseling, pengobatan, hingga keberlanjutan program penanggulangan HIV/AIDS di Kota Jambi.
Dalam sambutannya, Fahmi menegaskan bahwa penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan.
“Kita memahami bahwa penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi tanggung jawab bersama. Karena itu, diperlukan sinergi dalam penanganan dan keberlanjutan program HIV/AIDS,” ujarnya.
Menurutnya, HIV/AIDS merupakan isu pembangunan yang memiliki keterkaitan erat dengan berbagai aspek, mulai dari sosial ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, perlindungan sosial, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Atas nama Pemerintah Kota Jambi, Fahmi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Yayasan Kanti Sehati Sejati Jambi, Yayasan Spiritia, ADINKES Jambi, Bapperida Kota Jambi, serta seluruh pihak yang telah berinisiatif dan berkolaborasi dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Dukungan dan kolaborasi berbagai pihak sangat penting untuk memastikan program penanggulangan HIV/AIDS dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Fahmi menjelaskan, dukungan pendanaan eksternal untuk berbagai program kesehatan saat ini menghadapi tantangan. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diantisipasi melalui penguatan pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri atau pembiayaan domestik.
Ketergantungan terhadap pendanaan eksternal, lanjutnya, dapat berpengaruh terhadap kesinambungan berbagai layanan penting HIV/AIDS, seperti pemeriksaan HIV, pengobatan antiretroviral (ARV), penjangkauan populasi kunci, serta pendampingan berbasis komunitas.
“Oleh karena itu, transisi menuju pembiayaan domestik bukan sekadar persoalan mencari sumber dana baru, tetapi merupakan bagian dari upaya memastikan program HIV tetap berjalan secara berkesinambungan dan terintegrasi dalam sistem pembangunan daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembiayaan program tidak hanya bergantung pada APBD. Masih terdapat berbagai peluang yang dapat dikembangkan secara sah dan sesuai ketentuan, antara lain melalui optimalisasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kemitraan dengan dunia usaha melalui CSR, dukungan BAZNAS dan filantropi, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan kolaborasi dengan organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas.
Fahmi berharap workshop tersebut tidak berhenti pada diskusi dan pertukaran informasi, tetapi mampu menghasilkan langkah konkret serta komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan.
“Saya menyambut baik adanya agenda diskusi lintas sektor ini. Harapannya, setiap sektor yang hadir dapat melihat HIV/AIDS sebagai tanggung jawab bersama. Bukan hanya urusan Dinas Kesehatan atau Baperida, tetapi juga dunia usaha, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh adat, lembaga pendidikan, dan seluruh komponen masyarakat memiliki peran strategis dalam mendukung pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh pihak menjadikan workshop tersebut sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi, komitmen, dan kepedulian terhadap keberlanjutan program HIV/AIDS di Kota Jambi.
“Semoga dari pertemuan ini lahir rencana tindak lanjut yang jelas, pembagian peran yang nyata, serta komitmen yang dapat kita kawal bersama. Keberlanjutan program HIV/AIDS jangan hanya menjadi dokumen atau kesepakatan di atas kertas, tetapi benar-benar diwujudkan dalam program dan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
DPRD Dorong Penguatan Edukasi dan Pencegahan
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi IV DPRD Kota Jambi, Mertua Siregar, S.P., menyampaikan bahwa peningkatan akses masyarakat terhadap informasi perlu diimbangi dengan edukasi yang tepat mengenai HIV/AIDS.
Menurutnya, pemerintah bersama aktivis, organisasi masyarakat, lembaga kesehatan, dan berbagai pihak terkait perlu melihat persoalan HIV/AIDS secara komprehensif serta meningkatkan upaya pencegahan di tengah masyarakat.
Ia menekankan pentingnya penguatan edukasi agar masyarakat memiliki pemahaman yang baik mengenai HIV/AIDS, termasuk faktor risiko, upaya pencegahan, pemeriksaan, dan penanganannya.
“Di dunia kesehatan kita mengenal prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat menambah wawasan dan selanjutnya menyampaikan informasi yang tepat kepada masyarakat mengenai HIV/AIDS,” ujarnya.
Yayasan Kanti Sehati Tegaskan Penanggulangan HIV/AIDS Tanggung Jawab Bersama
Sementara itu, Ketua Yayasan Kanti Sehati Sejati Jambi, David Chandra Herwindo, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya yayasan dalam mendukung penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi Jambi.
Ia menjelaskan, Yayasan Kanti Sehati Sejati Jambi telah menjalankan program sejak 2008 dan dipercaya sebagai Implementing Unit (IU) dalam pendampingan orang dengan HIV (ODHIV) serta melakukan penjangkauan terhadap kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan HIV.
Menurut David, upaya penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan lintas sektor karena persoalan tersebut berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“Pada saat kita bicara HIV/AIDS, ini adalah tugas kita bersama. Bukan hanya tanggung jawab yayasan, bukan hanya Dinas Kesehatan, dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah kota. Artinya, diperlukan kolaborasi lintas sektor,” ungkapnya.
Ia menambahkan, isu HIV/AIDS perlu direspons melalui pembagian peran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing instansi maupun organisasi. Dinas Kesehatan dapat memperkuat program kesehatan, Dinas Sosial melalui program sosial, pemerintah melalui berbagai kebijakan dan program mitigasi, sementara dunia usaha, organisasi masyarakat, lembaga keagamaan, lembaga adat, serta komunitas dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
David berharap workshop Building Awareness and Mobilizing Domestic Resources for Sustainability of HIV Program dapat menjadi awal dari langkah tindak lanjut yang lebih konkret di Kota Jambi.
“Harapan kami, insyaallah akan ada kegiatan lanjutan ke depan. Setidaknya kegiatan ini dapat menjadi program bersama untuk mengatasi isu HIV di Kota Jambi. Pihak swasta, lembaga adat, MUI, dan masyarakat juga dapat berkontribusi dalam menjalankan program dengan baik sehingga ke depan kita dapat menjaga dan melindungi seluruh masyarakat Kota Jambi,” katanya.
Workshop tersebut turut dihadiri Kepala Baperida Kota Jambi Suhendri, S.H., M.Si., Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi Dr. dr. Elvi Roza, M.Kes., Kabag Ekonomi Setda Kota Jambi Hendra Saputra, S.E., M.M., BPJS Kesehatan, PERSI, organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, IBI, PPNI, IDI, PMI, Forum CSR, dunia usaha, BAZNAS, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh adat, LAM, MUI, mitra pembangunan, organisasi masyarakat, komunitas, serta peserta workshop lainnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan pemaparan materi oleh narasumber dari Baperida dan Dinas Kesehatan Kota Jambi sebagai bagian dari upaya merumuskan langkah bersama untuk memperkuat keberlanjutan program penanggulangan HIV/AIDS di Kota Jambi.