Buka Eco Bareng AEPI Sumatera, Nadiyah Dorong Pengrajin Ecoprint Terus Berinovasi dan Perluas Pasar
Jumat, 04 September 2026
Penulis: Johanes Afrizal | Editor: Eko Oktavianus
Jambi — Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Jambi, Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG, mendampingi Ketua Dekranasda Provinsi Jambi, Hj. Hesnidar Haris, S.E., membuka secara resmi kegiatan “Eco Bareng AEPI (Asosiasi Eco-Printer Indonesia) Sumatera” di Rumah Produksi Batik Berkah, Pematang Sulur, Kota Jambi, Jumat (04/09/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 4–5 September 2026, tersebut menjadi wadah bagi para penggiat dan pengrajin ecoprint dari berbagai daerah di Sumatera untuk belajar, berbagi pengalaman, serta mengembangkan inovasi produk berbasis bahan alam.
Mengusung tema “Berkarya Ecoprint dengan Sentuhan Prada”, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan kerajinan ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk kerajinan lokal.
Ecoprint merupakan teknik mencetak motif pada kain dengan memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti dedaunan, bunga, dan kulit kayu. Teknik tersebut menghasilkan motif yang unik dan memiliki karakter berbeda pada setiap produk, sehingga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk fesyen dan kerajinan bernilai ekonomi tinggi.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan penyusunan motif ecoprint di atas kain secara simbolis. Acara juga dirangkaikan dengan fashion show yang menampilkan hasil karya Batik Berkah Jambi dan AEPI Sumatera.
Ketua Dekranasda Provinsi Jambi, Hj. Hesnidar Haris, mengaku bangga melihat semakin banyaknya penggiat wastra di Provinsi Jambi, mulai dari tenun, batik, hingga ecoprint yang menjadi bagian dari kekayaan kerajinan daerah.
Menurutnya, keberadaan para penggiat wastra tidak hanya berperan dalam melestarikan budaya dan lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan perekonomian para pengrajin sekaligus memperkenalkan identitas Jambi melalui produk kerajinan.
“Kita bangga dan bahagia sekali bahwa di Jambi ini banyak sekali penggiat wastra yang menyejahterakan masyarakat dan mengangkat nama daerah Provinsi Jambi,” ujarnya.
Hesnidar mengatakan, perkembangan teknologi informasi saat ini juga memberikan kemudahan bagi para pengrajin untuk belajar, bertukar pengalaman, serta mencari referensi dalam mengembangkan inovasi produk.
Menurutnya, kegiatan seperti Eco Bareng AEPI menjadi penting karena mempertemukan para penggiat ecoprint secara langsung sehingga dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman.
“Yang paling penting dari kegiatan hari ini adalah kita semua merupakan orang-orang yang peduli dengan wastra, peduli dengan pengrajin, dan peduli dengan Jambi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Jambi, Nadiyah, mengatakan terdapat sejumlah nilai penting yang dapat diperoleh dari kegiatan tersebut. Salah satunya adalah semangat para pengrajin dan pelaku ecoprint untuk terus belajar dan berinovasi.
Menurut Nadiyah, inovasi menjadi kunci agar produk kerajinan tidak berhenti pada satu bentuk atau teknik saja. Pengembangan produk harus terus dilakukan untuk menjaga minat pasar sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
“Produk itu kalau tidak kita kembangkan dan tidak berinovasi, pasarnya pasti akan jenuh dan stuck. Kalau kita mau terus berkembang, bahkan menembus pasar-pasar baru dan membuka pasar yang lebih luas, maka kita harus terus berinovasi,” ungkapnya.
Ia menilai ecoprint memiliki potensi yang sangat besar untuk terus dikembangkan. Teknik yang sebelumnya banyak menggunakan proses pukul maupun steam kini telah berkembang dengan berbagai sentuhan dan kombinasi, termasuk pemanfaatan warna alam serta perpaduan dengan batik.
Menurut Nadiyah, hadirnya sentuhan prada dalam produk ecoprint menjadi salah satu bentuk inovasi yang dapat meningkatkan kesan eksklusif dan nilai jual produk.
“Dengan sentuhan prada, sesuatu bisa menjadi lebih mewah dan lebih luks. Yang awalnya ecoprint mungkin belum banyak digunakan untuk gaun pesta, hajatan atau acara formal, dengan sentuhan prada ini mungkin kelasnya akan naik lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan ecoprint kini tidak terbatas pada kain dan busana, tetapi telah merambah berbagai produk, seperti tas, sepatu, dan berbagai produk fesyen lainnya.
Nadiyah juga menekankan pentingnya membaca peluang pasar, khususnya tren sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan yang semakin memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
Menurutnya, karakter ecoprint yang menggunakan bahan-bahan alami memiliki posisi strategis dalam pengembangan produk eco-friendly fashion. Namun, untuk dapat menembus pasar yang lebih luas, pengrajin juga perlu memperkuat identitas produk melalui narasi atau storytelling.
“Dalam mengembangkan ecoprint, kita harus mencari sesuatu yang sama-sama eco-friendly. Untuk bisa menembus pasar yang lebih luas, kita harus punya narasi atau storytelling yang harus dipahami oleh para pengrajin,” katanya.
Nadiyah menilai ecoprint yang sebelumnya lebih banyak berkembang sebagai aktivitas hobi kini telah bertransformasi menjadi bagian dari industri kreatif yang memiliki prospek ekonomi.
Ia mendorong para pengrajin untuk terus menggali kekhasan masing-masing daerah sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa identitas dan cerita daerah asalnya.
Selain inovasi, Nadiyah menyebut silaturahmi dan pertukaran pengetahuan antarpengrajin sebagai nilai strategis lainnya dari kegiatan tersebut.
Menurutnya, pertemuan secara langsung memberikan kesempatan kepada para penggiat ecoprint untuk berbagi praktik baik, teknik, serta pengalaman yang dapat diadaptasi dan dikembangkan di daerah masing-masing.
“Yang kemarin ketemunya hanya lewat WhatsApp, sekarang bisa saling bertemu, berbagi ilmu, berbagi praktik yang baik dalam inovasi, dan saling mengadopsi teknik di daerah masing-masing. Dengan berbagi, kita akan terus berkembang,” ujarnya.
Ia berharap semangat kolaborasi dan berbagi pengetahuan tersebut terus dipelihara sehingga para pengrajin dapat maju bersama, menghasilkan inovasi baru, sekaligus mengangkat potensi kerajinan daerah, khususnya dari Kota Jambi dan Provinsi Jambi.
Sementara itu, Ketua AEPI Sumatera, Jupri Caniago, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan Eco Bareng AEPI Sumatera di Kota Jambi. Kegiatan tersebut diikuti para penggiat ecoprint dari berbagai daerah di Sumatera, mulai dari Aceh hingga Lampung.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bersama untuk menghasilkan karya-karya ecoprint berkualitas sekaligus memperkuat jejaring antar-pengrajin di Pulau Sumatera.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada panitia pelaksana. Mudah-mudahan dengan membuat ecoprint di Kota Jambi yang nyaman dan indah ini, kita bisa menghasilkan karya-karya terbaik, termasuk dengan sentuhan prada,” singkatnya.
Dalam rangkaian nya, pelatihan hari pertama kegiatan difokuskan pada pelatihan ecoprint secara bersama-sama. Sementara pada hari berikutnya, para peserta akan diajak mengenal sejumlah destinasi wisata di Jambi, termasuk Candi Muaro Jambi yang menjadi salah satu ikon budaya dan sejarah Provinsi Jambi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, Dra. Nella Ervina, MA, Agr., ME., Camat Telanaipura Widy Frima, S.Sos., MM., serta tamu undangan lainnya.